Mendapat pekerjaan di sebuah rumah sakit. Tak tanggung-tanggung, yang menemani langsung penanggung jawabnya. Seorang bapak ekstrovert yang ramai. Tak ditanya pun, bercerita sendiri. Bahkan menceritakan hal di luar teknis pekerjaan. Meeting singkat itu terasa hidup.
Saat sedang asyik bekerja, Beliau bermonolog, "K3 saya gak kepake nih, kerja di rumah sakit sih.". Tadinya mau menanggapi. Tapi kalau ditanggapi, yang ada kerjaan lama selesainya. Saya membatin, "kan ilmu K3 itu bisa dipakai di area kerja apapun, bukan cuma pabrik."
Sepertinya banyak yang beranggapan, bahwa K3 hanya dipakai di pabrik saja. Dengan alasan, karena pabrik dianggap sebagai area kerja yang berbahaya : yang berpotensi bahaya tinggi. Padahal, potensi bahaya itu ada di mana pun. Tak hanya di tempat kerja saja. Di rumah pun potensi bahaya itu ada. Di jalan, apalagi. Di setiap tempat yang dipijak, potensi bahaya itu ada.
Kesadaran akan potensi bahaya, membuat lahirnya inovasi dalam menciptakan barang-barang kebutuhan. Tak hanya sekedar untuk fungsi, tapi guna meredam potensi bahayanya. Ya, potensi bahaya tak bisa dihilangkan, hanya bisa dikendalikan. Pengendalian dengan metode eliminasi, subtitusi, perancangan, administrasi dan APD.
Jadi teringat saat training. Materi K3 adalah hal pokok yang diberikan. Hal dasar yang harus dikuasai sebelum terjun ke pabrik. Walau pekerjaan hubungannya lebih kepada K3 untuk peralatan industri, namun K3 untuk pekerja tak boleh abai dilakukan.
Selain materi K3, JSA pun jadi materi wajib. Terlebih dahulu harus bisa mengidentifikasi bahaya yang muncul, sehingga bisa menyiapkan peralatan atau tindakan-tindakan yang bisa meminimalisir risiko, pun bisa merekomendasikan cara teraman untuk melakukan pekerjaan. APD yang digunakan saat bertugas, itu dibuat dan dipakai untuk meminimalisir risiko bahaya, bukan hanya untuk gagah-gagahan.
Saat ujian training, soal membuat JSA selalu ada di setiap bidang studi. Mabuk JSA, tentu saja. Kemabukan yang akhirnya menyadarkan, bahwa JSA ini bisa diterapkan di area mana pun, tidak hanya di pabrik saja. Pemahaman tentang JSA, akan membuat berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku.
Sayangnya, sosialisasi tentang K3 dan JSA, baru sampai di tahap area kerja. Itu pun belum semua area kerja melakukannya. Terbatas pada pabrik berskala besar. Terbatas pada daerah yang pengawasannya ketat. Terbatas pada ada tidaknya keberadaan HSE. Ya, beberapa kali menemukan pabrik yang potensi bahayanya tinggi tapi para pekerjanya tidak memakai APD. Bahkan di site peleburan, pekerjanya hanya memakai baju kaos dan sandal jepit.
| Siap menyelami ketinggian :D |
Sebagai orang yang mempelajari K3, saya punya sebuah mimpi. Agar K3 ini dikenalkan di semua kalangan, di semua lapisan umur, sejak dini. Sehingga prinsip K3 dilakukan di semua tanah yang dipijak, bukan hanya dilakukan di area kerja. Area kerja pun bukan hanya untuk di pabrik saja.
Satu lagi, pengenalan K3 harus seiring sejalan dengan pengenalan JSA. Sehingga setiap tindakan, prilaku, bahkan perkataan yang akan diucapkan, sudah melalui pemikiran mendalam, pun sudah diketahui potensi bahaya yang akan muncul. Hasil akhirnya, prilaku yang terkendali. Ucapan yang terjaga. Safe action. Safe condition.
Segala yang sudah dipelajari, tidak ada yang sia-sia. Anggapan tentang kesia-siaan belajar, bisa jadi disebabkan karena belum belajar sampai mendalam. Belum memahamai hakikatnya. Maka selamat mendalami pelajaran.
Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan.
![]() |
| Saat dijadikan petugas rapid untuk area beroli :D |
Ket :
K3 : keselamatan dan kesehatan kerja
JSA : job safety analysis


Komentar
Posting Komentar