Kemarin,
mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik, yang membangkitkan kembali kenangan
lama. Tentang masa selepas putih abu-abu. Tentang “dendam” yang menginginkan kembali
untuk sebuah pembuktian bisa menaklukkan. Tentang seseorang yang begitu menghina,
sehingga namanya masih diingat. Tapi nyatanya kemarin, kembali dengan damai. Tanpa
dendam. Tanpa ingin membuktikan. Tanpa keinginan menaklukan. Tanpa apa-apa,
selain hanya menjalani dan menyelesaikan pekerjaan.
Belasan tahun
lalu itu, selepas menyelesaikan SMA. Saya punya 2 rencana : kuliah dan mencari beasiswa
untuk kuliah. Untuk jalur beasiswa, sekalian mendapaftar di 2 tempat. Pertama di
sebuah pabrik yang cukup punya nama dan kedua di gabungan pabrik di daerah
Cilegon. Kesemuanya dijalani, dan puji Gusti, sesuai keinginan.
Di kampus dan
jurusan yang dipilih, saya lolos. Beasiswa di Pabrik pertama, gagal. Katanya,
yang diberi beasiswa hanya lelaki. Perempuan tidak bisa dipekerjaan di pabrik,
di area site. Beasiswa satunya, lolos. Bahkan dengan nilai terbesar di antara
lima orang yang akan diinterview di pabrik X. Namun ketika interview di pabrik,
bapak HRDnya dengan terang-terangan bilang, “beasiswa yang diberikan khusus
untuk lelaki, karena perempuan gak bisa bekerja di pabrik.” Jujur, saat itu
saya kecewa dan marah. Kecewa karena keinginan untuk tak membebani orang tua
perkara biaya kuliah, nyatanya gagal. Marah karena merasa disepelekan hanya
karena perempuan. Fix, nama beliau diingat dan berjanji akan “menaklukan”
pabriknya setelah lulus kuliah.
Selepas lulus
kuliah, melamar di pabriknya. Gak kunjung juga dipanggil, padahal background teknik
kimia cocok dengan pabriknya yang adalah pabrik kimia. Mungkin bapak HRDnya
masih mengingat nama saya dan masih berkesimpulan bahwa perempuan tak bisa
dipekerjakan di site, dan tak juga memberikan kesempatan menjadi officer. Atau Gusti
tahu bahwa saya masih menyimpan dendam, jadi tak baik jika menempatkan di sana.
Tahun-tahun
berganti. Setelah introspeksi dan kontemplasi panjang yang dilakukan, tersadari
adanya luka batin yang terendap lama. Luka batin yang akhirnya menjalari ke
sakit fisik. Pelan-pelan berusaha melepaskan luka batinnya, agar sembuh dan
waras. Menjadi manusia yang damai, tenang dan ridho serta diridhoi. Segala keinginan
pun dilepaskan, berganti hanya keinginan menjalani jalan yang diberikan-Nya
saja.
Di saat sudah
berpasrah menjalani pekerjaan yang diberikan-Nya, menjadi guru bagi anak-anak
yang sama sekali tak pernah diinginkan, justru diberi pekerjaan yang akhirnya
mengantarkan saya ke pabrik-pabrik. Bahkan ke pabrik yang dulu menolak
memberikan beasiswa hanya karena status sebagai seorang perempuan.
Entah kenapa
saya berpikir begini. Gusti tak menempatkan saya di sebuah pabrik, karena Gusti
sangat tahu, bahwa jiwa saya tak bisa “dikurung” lama dan bosan belajar hal
yang sama sekian lama di sebuah tempat. Dengan status sebagai anak lapangan
yang aktivitasnya mobile, saya tak hanya bisa belajar dari tempat-tempat yang
didatangi, tapi juga memfasilitasi hobi fotografi dan hobi berpetualang, pun
hobi mengamati prilaku orang lain 😆😆
Pada akhirnya mengucapkan terima kasih pada
Gusti, atas ketidakterkabulan keinginan lalu, dan pada orang-orang yang dulu
menolak. Karena ketidakterkabulan dan penolakan itu, walaupun sempat membuat
sakit dan merasa menjadi orang yang tak berguna, tapi nyatanya mengantarkan
pada perenungan yang menjadi jalan untuk menjadi versi diri yang semakin baik.
Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan.

Emang sih setiap sesuatu kejadian punya maksud tertentu
BalasHapusbetul kang. Maksud dan tujuan yang bisa diketahui setelah melewati dan merenungkannya.
Hapus