Pertolongan

Saat orang yang banyak minum menjadi anak kost, apalagi di kostnya tidak ada free minum, ternyata pengeluan untuk membeli minumnya lumayan banyak. Berdasarkan data di hari pertama, saat di kost menghabiskan air minimal 1,5 liter. Di tempat training, menghabiskan 1,2 sampai 1,8 liter (2-3 botol ukuran 600 ml). Karena di tempat training, tentu saja gratis 😀. Untuk menghemat, maka langsung membeli air yang berukuran 1,5 liter. 

Saat berkenalan dengan penghuni kamar kost sebelah, saya sempat bertanya tentang di mana membeli air minum galon dan apakah bisa meminjam galonnya. Pengalaman 2 kali training sebelumnya, selalu disediakan air minum galon di dapur. Karena mbaknya membawa galon sendiri, tentu saja tak tahu jawabannya. Ingin bertanya langsung kepada penjualnya, kok ya belum sempat. 

Sore ini, niatnya kembali membeli air minum, karena stok di kamar tinggal sedikit. Langsung diputuskan membeli 3 botol berukuran 1,5 liter, agar cukup untuk 3 hari. Tapi di saat akan mengeluarkan totebag dari dalam tas, tiba-tiba mata diperlihatkan air galon, yang berdasarkan iklannya di televisi, langsung dijual dengan galonnya. Bertanyalah harganya. Naluri ekonom langsung menghitung. Ternyata harganya sama dengan harga 4,5 botol berukuran 1,5 liter. Tentu saja diputuskan membeli air galon, apalagi setelah latihan mengangkat, merasa bisa, kuat, dan mampu.

Perjalanan mengangkat galon pun dimulai. Pertama mengangkat, masih biasa. Berjalan 10 meter, masih biasa. Tapi setelahnya, kok ya pegal. Tangan bagian dalam merah merona. Beristirahat, mengembalikan nafas yang tak teratur. Teringatlah kertas-kertas catatan training tadi. Kertas tulisan cepat, yang akan disalin ke dalam binder. Langsung mengambil kertasnya, melipatnya dengan rapi, dan menjadikannya sebagai pengganjal tangan. Memang tangan sudah tak lagi memerah, namun masih tetap berhenti setiap 5 sampai 10 meter, di saat sudah merasakan lelah. Berharap ada ojek yang lewat, kok ya gak ada. Mungkin karena saya mengambil jalan pintas, melintasi gang. 

Afirmasi dan menyemangati diri sendiri, terus saja dilakukan. Tapi kok ya gak bisa menghilangkan lelahnya? 😁😁 Istirahat...jalan...istirahat...jalan lagi, terus saja begitu sampai akhirnya tiba di jalan besar, menuju tempat kost. Jalan terus, sehingga akhirnya sampai di seberang gerbang kost. Perjuangan masih belum selesai, karena dari gerbang menuju kamar kost masih terbentang jarak yang lumayan jauhh. 

Dari gerbang menuju deretan kamar kost

Saat beristirahat di depan gerbang, karena masih banyak kendaraan yang melintas, saya membatin, "Gusti...beneran nih gak ada orang yang menolong?" Dari jarak sekian meter itu, melihat ibu laundry keluar dari rumahnya (rumahnya persis di seberang tempat kost). Masih sangat hapal wajahnya, karena baru tadi pagi menyerahkan laundryan. Sebagai tanda, saya menganggukan kepala. Melihat saya membawa galon dan kelelahan, beliau memanggil suaminya untuk membantu. Suaminya mendatangi, dan langsung mengangkat galonnya. Sementara saya mendatangi rumahnya, karena laundryan sudah selesai. 

Membuka gerbang kost, bapak laundry sedang berbincang dengan bapak-bapak penjaga kost. Mungkin ditanya, galon punya siapa. Melihat saya datang, bapak penjaga masih sangat mengenali. Beliau langsung mengambil galonnya, dan membawakannya sampai di depan pintu kamar. Saya mengucapkan terima kasih banyak. 

Selesai membuka pintu kamar, saya langsung tiduran. Melepaskan lelah. Mengistirahatkan punggung dan tangan. Badannya beristirahat, tapi otaknya mengajak menghitung dan merenung. 

Sebuah tulisan, yang saya lupa tulisannya siapa, menyebutkan bahwa beban maksimal yang bisa diangkat oleh orang, sekitar 40 - 50 % dari berat tubuhnya. Berat tubuh saya 50 Kg, jadi bisa mengangkat beban sekitar 20 - 25 Kg. Air galonnya 19 liter. Massa jenis air 1000 kg/m3, atau 1 kg/ liter. Isi galonnya 19 liter, jadi beratnya 19 kg. Ditambah berat galon, yang ditaksir sekita 0,5 - 1 Kg. Jadi berat total air galonnya sekitar 20 Kg. Beban ransel yang berisi laptop, binder, mukena dll, sekitar 4 -5 kg. Jadi beban total yang saya bawa, seberat 24 - 25 kg. Jelas kelelahan, karena fokus dibagi 2 : di punggung dan tangan. 

Tiba-tiba ingat tentang kemunculan ibu laundry, yang langsung memanggil suaminya. Kemunculannya hanya berselang sekitar 1 menit, setelah saya mengadu pada Gusti. Meminta pertolongan Gusti, tentu saja itu sudah dilakukan pertama kali. Tapi karena saya sudah sangat kelelahan, jadi berharap pertolongan Gusti itu melalui orang lain. Dan kenapa pertolongan Gusti melalui orang lain itu terjadi di saat sudah sampai gerbang kost? Bisa jadi, karena saya merasa bisa dan mampu. Sudah trial, kuat mengangkat galonnya. Masih yakin kuat mengangkat karena sambil berafirmasi dan meyemangati diri sendiri. Merasa bisa sendiri membawanya sampai kamar kost. Nyatanya...saya sangat kelelahan. 

Saya beristighfar, memohon maaf dan ampunan Gusti. Merasa sudah sombong, karena merasa bisa, mampu, dan kuat. Padahal segala kekuatan, kebisaan, dan kemampuan, adalah karena izin dan ridho-Nya. Bagaimana Gusti bisa memberikan izin dan ridho-Nya jika di dalam hati terbersit kesombongan dan kebisaan?    

Setelah lelahnya hilang, saya mendekati galonnya untuk melihat seberapa banyak isinya. Karena secara bentuk, ukuran galonnya jauh lebih kecil dari ukuran galon standar. Setelah dicari, didapatkan isinya sebanyak 15 liter. Berat total air dan galon, jadi hanya sekitar 15,5 - 16 kg. Berarti air galon bisa dipakai untuk 10 hari. Dan nanti, di saat waktunya membeli air galon lagi, lebih baik memesan ojek online dari tempat training, agar tidak lagi terjadi kelelahan ganda. Lelah tangan, dan lelah punggung. Juga terhindar dari kesombongan yang mengakibatkan perenungan cukup dalam. 

Terima kasih Gusti, sudah menyentil kesombongan ini. Maka bimbing dan tunjukilah saya jalan yang lurus, agar tak tersesat dari menuju-Mu. 


Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan. 




Komentar