Hari ini, hari pertama memulai training. Sudah dua kali training di Jogja, jadi ketika training di Tangerang Selatan, jetlag parah jadinya 😀😀 Jika biasanya sudah all ini, kali ini sangat berbeda. Tempat kost mencari sendiri, tidak ada antar jemput ke tempat training, makan mencari sendiri dan laundry juga sendiri. Ribed? Sedikit sih. Sedikit buat olah raga karena harus jalan kaki ke lokasi. Anggap saja sarana gratis untuk semakin melatih otot kaki dan bahu 💪💪💪
Hari pertama...telat sekian menit 👏 Sebenarnya bukan masalah, toh trainingnya belum mulai, hanya sedang mengisi biodata. Keterlambatan yang bukan disengaja, sudah pagi--bahkan sepertiga malam--berangkat dari rumah. Tapi karena harus mencari tempat kost, yang gak langsung ditemukan, maka keterlambatan adalah hasil akhirnya.
Trainer pertama--sampai beberapa hari ke depan--adalah seorang bapak sepuh yang sudah malang-melintang di dunia persafetyan 😀. Sudah sekian tahun pensiun dari jabatan strukturalnya, tapi masih cukup prima untuk mengajar. Keberkahan ilmu dan prilaku, bisa dibilang begitu.
Lumrahnya, sambil memberikan materi ya sambil bercerita. Biar yang mendengarkannya gak bosan dan ngantuk. Apalagi dinginnya AC cukup mendukung. AC yang bagi anak lapangan seperti saya, ternyata tak mudah disahabati daripada cuaca panas. Di panas tak masalah, tapi di ruangan ber-AC jadi gak produktif. Lha kan cuma duduk manis mendengarkan dan sesekali mencatat.
Beliau bercerita, jika saat dipanggil menjadi trainer, di mana pun permintaan dan perlakuannya selalu sama. Selalu meminta kepada penyelenggara trainingnya untuk ditempatkan di kamar hotel di lantai pertama, dan hanya bersedia di maksimal lantai ke tiga. Alasannya simpel, jika terjadi hal yang tak diinginkan, seperti kebakaran atau gempa bumi, maka cepat menyelamatkan diri. Selain itu, beliau selalu meminta smoke dan heat detectornya untuk diujifungsi. Alasannya lagi-lagi untuk keselamatan. Meneliti juga di mana letak APAR dan hydrantnya. Iya kan beliaunya sudah lama menjadi safety, jadi tak salah jika prilakunya selalu mengedepankan keselamatan di mana pun dan kapan pun.
Dari ceritanya, saya bisa menarik keseimpulan. Bahwa : semakin tahu dan semakin dalam mempelajari sesuatu, tentu saja akan semakin paham. Kepahaman yang membuat standarnya akan sesuatu itu menjadi lebih tinggi dan semakin tinggi. Ini bagus sih, di satu sisi. Tapi di satu sisinya lagi, membuat ribed sendiri. Butuh persiapan dan waktu yang tak singkat, untuk memutuskan ya dan lanjut. Dan tentu saja berani bilang tidak jika tak sesuai standarnya.
Salam hormat untuk bapak yang luar bisa. Semoga senantiasa sehat dan berbahagia, agar bisa semakin banyak mentransfer ilmu dan pengetahuannya.
Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan.

Komentar
Posting Komentar