Diberitahu akan training di Syahida inn, yang berada di UIN Syarif Hidayatullah, tiba-tiba putaran dunia seakan berhenti sesaat, lalu dikembalikan ke masa bertahun-tahun lalu.
Saat itu, begitu terpesona dengan kalimat "man arafa nafsahu, faqat arafa robbahu" barang siapa mengenali dirinya, maka akan mengenali Tuhannya. Kalimat yang memancing diri berperjalanan, belajar, dan berproses. Kalimat yang mengilhami terangkainya dua buah nama nama : Arifa Nafsa Syahid dan Arafa Nafsa Syahid.
Sejak remaja itu, sering kali disinggahi mimpi, diberikan anak kembar. Dua lelaki yang wajahnya serupa, kembar identik. Maka sejak saat itu, iseng-iseng merangkai nama untuk keduanya. Setelah berkali-kali gonta-ganti nama, ditetapkanlah namanya, Arifa Nafsa Syahid dan Arafa Nafsa Syahid. Nama yang menjadi petunjuk dan tentu saja doa, agar mereka menjadi jiwa yang mengenali persaksiannya. Pun menjadi pengingat, tentang perjalanan berproses.
Namun entah kenapa, di saat ponakan lahir, nama itu diberikan begitu saja. Bapak ibunya pun setuju. Eyang yang tahu tentangnya, tentu saja langsung menanyai. Nama yang sudah disimpan bertahun-tahun, yang sudah didoakan dan diidamkan, kenapa diberikan begitu saja. Saya cuma senyum dan jawab, "Biarkan namanya muncul seiring semakin dalam berproses."
Setelah itu satu per satu namanya mucul, dan sudah terangkaikan. Akankah dipergunakan nanti? Tunggu saja waktunya.
Saya yang mempercayai bahwa tak ada satu hal pun yang terjadi secara kebetulan, dan segala sesuatu pasti ada alasan serta tujuannya, pun bahwa Gusti sudah sangat presisi mengaturkan sesuatu. Jadi berkesimpulan begini : di tempatkan di syahida, agar terus belajar dan berproses untuk menjadi syahida. Kesyahidaan yang mengantarkan menjadi syarif, syarif hidayatullah.
Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan.


Komentar
Posting Komentar