Sesekali, men-skakmat


Disadari atau tidak, tengah hidup di tempat, di mana menikah dianggap sebagai sebuah pencapaian terbesar. Sehingga, cepat atau lambat, yang belum menikah, akan disindir-sindir secara tidak langsung ataupun langsung, secara halus ataupun kasar, untuk segera menikah. SEGERA! Ketika tidak segera, maka cap-cap akan dilekatkan: gak laku, pemilihlah, dan sebagainya. Bahkan cap yang terbaru, dianggap hombreng ataupun lesbong. Menyeramkan. 

Di lingkungan sekitar, sindiran itu masih sering terdengar. Mau tak mau akhirnya berusaha berdamai dengan sindirannya. Karena sungguh tak bisa menutup mulut orang lain, maka yang bisa dilakukan tentu saja mengendalikan telinga. Tak memasukannya ke dalam hati. Atau langsung mencurhatkannya pada Gusti 😀

Ada satu orang, yang semenjak kenal, sudah menunjukkan bahwa dirinya mengetahui tentang metafisika. Katanya, membaca aib orang adalah makanan sehari-harinya. Entah kurang kerjaan atau kehidupannya kurang menyenangkan, sehingga suka membaca aib orang lain? 

Sejak dia tahu bahwa saya belum menikah, keusilannya pun dimulai. Dari mulai ditanya-tanya kapan nikah, kenapa belum nikah, mau cari yang seperti apa, dan sebagainya. Awalnya masih ditanggapin dengan sopan, menjaga hubungan baik, tapi lama-kelamaan ucapannya makin menusuk dan sangat pedas. Besar kemungkinannya dia mengkomparasikan kehidupan saya dengan kehidupannya. Lah memangnya siapa yang mengatur alur hidup seseorang? Jika bisa memilih, tentunya orang akan memilih alur hidup yang serba mulus dan lancar. Bisa mencapai apapun dengan mudah dan cepat. Tapi jika seperti itu, apakah kehidupan tidak kacau? 

Mengikuti apa yang sering didengar, bahwa orang seperti itu sebaiknya didiamkan saja. Maka saya pun mendiamkannya. Kalau di-chat terkait hal itu, ya dibaca saja. Tapi lama-kelamaan semakin menyebalkan. Akhirnya ketika beberapa hari lalu dia chat, saya putuskan untuk men-skakmat saja. 

Bagi saya, orang yang mengaku dirinya mengetahui metafisika, menuju atau sudah di maqom mukasyafah, rasanya tak masuk akal jika masih mempertanyakan hal itu. Jika hijab ruhnya sudah terbuka, kenapa masih mempertanyakan terkait takdir yang diterima oleh seseorang? Are he can't see the beyond? Are he a kassyf

Sampai detik ini, masih meyakini, bahwa apapun yang ditakdirkan oleh Gusti, adalah yang terbaik. Maa khalaqta hadza bathila. Sehingga saat ada seseorang yang menyindir terkait belum menikah, saya mencoba mencari tahu hal apa yang sebenarnya sedang Gusti inginkan dan apa tujuan-Nya atas keadaan ini. Selalu ada hal indah, di balik ketidakbaikan yang dipandang oleh mata. Ada rahasia di balik rahasia.  

Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan.  

Komentar