Nasihat Yang Kembali

Hari senin dan hanya di kantor, itu amazing moment 😀 Pastinya karena Gusti mengerti, bahwa laporan minggu lalu itu belum selesai dikerjakan. Memang laporannya sedikit, tapi fotonya buanyakk. Maklum laporannya beranak-pinak. Laporannya 1, tapi anaknya buanyakk. 

Lagi asyik mengerjakan laporan, pusing terasa. Meraba kening, suhunya sedikit meningkat. Pengerjaan laporan dikebut, biar cepat selesai. Jam 12, laporan selesai. Langsung izin pulang, toh semua pekerjaan sudah selesai dan kemungkinan besar tidak ada tugas luar. Sesampainya di rumah, langsung bocan (bobo cantik) 😀😀😀 

Bangun tidur, suhu tubuh terasa semakin meningkat dan pipi kiri merasa nyeri. Semakin malam, nyeri di pipi kiri semakin terasa. Nyeri di bawah mata, yang terasa sejak kurang lebih seminggu yang lalu, mulai menjalar sampai ke bawah. Saya mengambil senter dan cermin, memeriksa kondisi mulut dan gigi. Ternyata karena gigi bungsu yang tumbuhnya miring (miring 90 derajat yang mengarah ke pipi). Pipi mulai senat-senut. 

Selasa pagi, bangun tidur dengan pipi yang terasa nyeri. Salah posisi tidur? Biasanya tidur miring ke kanan, jadi posisi pipi kiri pastinya aman. Tapi ya nggak tahu kalau saat tidur berubah posisi. Kan tidurnya gak sadar ya 😁😁😁  

Mulai mencoba berkumur dengan air garam, berulang-ulang kali sampai pipi terasa kebas. Dilanjutkan dengan mengolesi pipi dengan minyak sereh, berharap bisa meredakan nyerinya. Menelphone CS klinik tempat biasa berobat, sayangnya mesti membuat janji dan menunggu daftar antrean. Mengompres pipi pun mulai dilakukan, sambil mencoba berkomunikasi dengan pipi dan mempersilakan tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri. 

Rabu pagi, terbangun dengan rasa nyeri yang semakin menjadi. Saat bercermin, bengkak semakin besar. Seperti mengemut 2 rambutan 😁😁😁. Harapan untuk segera ditelphone oleh klinik, sepertinya mustahil. Maka langsung mencari rumah sakit yang ada poli gigi. Menelphone CSnya dan Puji Gusti, praktiknya setiap hari, dari pagi sampai malam. Langsung mandi, bersiap dan segera menuju RS. 

Sampai di sana, sepertinya menjadi pasien pertama, karena tak melihat pengantre. Langsung daftar, dan diminta menuju ke poli gigi di lantai 2. Sampai lantai 2, ternyata dokternya belum datang. Padahal saya datang 30 menit setelah jadwal buka poli yang tercantum di sosial medianya. Setelah menunggu lebih dari 30 menit, dokternya datang. 

Dokter bertanya apa dan kenapa, saya mencoba menjelaskan sebab musabanya disertai analisa singkat. Diminta berbaring di kursi pasien dan disorot dengan spot light 😁😁😁 Setelah melihat dan memeriksa, dokternya menjelaskan sebab musabab yang tak jauh beda dengan hasil analisa singkat saya. Di akhir, diminta (lebih tepatnya diharuskan) untuk mencabut geraham di spesialis bedah mulut. Karena geraham yang tumbuh miring ini, jika dibiarkan, maka akan mengikis gigi depannya dan bisa merobek pipi dalam. 

Sambil menunggu dokter menulis resep dan surat rujukan, saya merenung dan voila...diri saya berteriak dalam hening, "nasihat yang kembali". Beberapa hari sebelumnya, saat seorang teman mencurhatkan tentang temannya, saya mengeluarkan sebuah kalimat, "Yang toxic, ditinggalkan saja, dibuang. Sayangi diri sendiri." Melalui peristiwa ini, seolah Gusti menunjukan, bahwa yang toxic itu tak hanya berasal dari luar diri, tapi juga bisa berasal dari dalam diri sendiri. Dan sesuai dengan nasihat yang diberikan, maka yang toxic ini harusnya dibuang, agar tak semakin melukai diri sendiri. Menyayangi diri sendiri.

Dari apoteker, dihadiahi seplastik obat. 2 plastik anti biotik dan 2 plastik pereda nyeri, yang cukup untuk 5 hari. Sambil minum obatnya, sambil mempersiapkan diri untuk menjalani prosedur pencabutan gigi, di minggu depan. 

Kamis pagi ini, bengkaknya mulai mengecil. Sudah tidak merasakan nyeri, hanya saja terasa seperti kesemutan. Pipi sudah tidak sekeras kemarin. Puji Gusti. 

Dear Gigi Bungsu...terima kasih atas pertumbuhan yag memberikan banyak pelajaran. Maaf ya kalau minggu depan, harus dihentikan pertumbuhannya.  

Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan.  

Komentar