Pelihat dan Pelaku


Saat menjadi vendor di tempat ini, dibiarkan jalan sendiri. Entah karena para tour guidenya sedang sibuk, atau karena sudah sering menjadi vendor di sini, sudah tahu dan hapal lokasi, sehingga sudah sangat dipercaya. 

Karena jalan sendiri, konsekuensinya menjalankan alatnya sendiri. Dipikir-pikir, gampang dan mudah. Bukankah sudah sering melihat para operator menjalankannya? Sat set...sat set, sesimpel dan semudah itu. Tapi ternyata, di saat menjalankannya, tidak sat set sat set, tidak segampang dan semudah seperti yang dipikirkan dan dilihat. 

Pertama, karena belum tahu arah mata angin, sehingga belum terkoneksi dengan tombol-tombol perintah yang ada di pendant control. Kedua, tentu saja karena belum terbiasa mengoperasikannya. Bisa karena biasa. Jika belum terbiasa, tentu saja belum bisa. Masih meraba-raba. Masih sering melihat ke atas, untuk mengetahui arah gerakannya, sudah sesuai kah dengan arah yang diinginkannya. 

Ketika menjadi pelihat, segala hal yang dilihat, terlihat sangat mudah. Mudah jika dilakukan sendiri. Tapi setelah menjadi pelaku, ternyata melakukannya tak semudah itu. Menjadi pelaku memang tak semudah menjadi pelihat, namun karena hidup terus berjalan maju, maka harus ada upgrade diri. Jangan mau terus-menerus menjadi pelihat. Mulai bergerak menjadi pelaku. Tentu saja bukan pelaku dalam hal-hal negatif yang bertentangan dengan norma, adat, dan agama.

Sebanyak-banyaknya ilmu yang dipalajari, tak akan menjadi bermakna jika tak dipraktikkan, dialami sendiri. Dan sebaik-baiknya pengalaman, adalah yang diambil ilmunya dan diterapkan terus di kehidupan. 

Mari menjadi pelaku, bukan hanya pelihat. Mari menemukan ilmu dari melakukan, bukan hanya ilmu dari melihat. Mari melakukan yang dilihat, jangan hanya melihat melakukan. 


Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keseimbangan serta keselarasan. 


 


Komentar