Ternyata, part pekerjaan yang paling asyik, adalah di saat menekan tombol emergency stop. Mesin yang sedang stand by, minta dioperasikan. Setelah dilihat dan diteliti seperti apa dan jalan pengoperasiannya, lalu dihentikan. Skema menghentikannya bukan dengan penghentian seperti biasa, melainkan dengan skema keadaan darurat, maka yang dilakukan adalah dengan menekan tombol emergency stop.
Tapi, ada yang berbeda kali itu. Biasanya, umumnya, nama tombolnya adalah emergency stop, namun saat itu tombolnya bernema engine kill. Selama bertahun-tahun lamanya, baru kali ini menemukan nama selain emergency stop.
Pemberian nama, memang kewenangan bagi sang pembuat mesin. Bisa mengikuti nama yang sudah umum, ataupun membuat nama baru. Namun yang tak boleh berubah, adalah fungsinya. Untuk rupa, bisa berubah atau mengikuti keumuman.
Dalam hidup, hal seperti ini umum terjadi. Satu rupa dan satu fungsi, bisa mempunyai banyak nama. Sementara satu nama, bisa merupa banyak dan beberapa fungsi. Makanan pokok, nasi, di tempat lain namanya bermacam-macam, walaupun rupanya tetap dan fungsinya masih sama. Tuhan-pun, biasa dipanggil dengan banyak nama.
Maka, apakah hanya fokus pada nama dan melupakan rupa dan fungsi, atau mempelajari nama, mengenali rupa, dan memahami fungsi? Apapun pilihannya, setiap pilihan tentunya mempunyai konsekuensi dan mempunyai harga yang harus dibayarkan.
Bukalah mata, menghening, dan semakin meluaskan pembacaan, sehingga semakin melihat dan memahami secara menyeluruh apa yang sebenarnya sudah, sedang, dan akan terjadi. Iqro bismirobbik.
Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan.

Komentar
Posting Komentar