Fight dan Flight : Jalan Mendaki

    Saya memanggilnya Akang. Ponakan pertama yang telah melewati usia 15 tahun. Baru menjadi santri SMA di sebuah pondok pesantren di Jawa Barat. 

   Sebuah kenyataan yang baru ditemui dan dialaminya, yang tak sesuai dengan pengetahuan dan pemahamannya, akhirnya menjadi masalah yang luar biasa berat baginya. Di awal, masih bisa diterima. Namun penerimaan yang tak dilandasi dengan apapun, tentu saja tak akan bertahan lama. Kelamaan yang nyatanya hanya bertahan dalam hitungan hari. Hingga akhirnya, dia memutuskan sesuatu yang saat itu dianggapnya sebagai yang terbaik, yang dipahaminya : flight. Karena untuk fight, yang diketahuinya, tidak ada kemampuan untuk itu.  

       Saya mendatanginya. Bukan bertanya apalagi menghakimi, hanya memintanya bercerita. Awalnya hanya diam membisu. Namun saya bilang, "Bagaimana bisa dibantu jika gak tau permasalahannya? Semua pasti ada solusinya, tapi masalahnya harus diketahui dulu agar bisa dicari jalannya." Beberapa saat kemudian, mengalirlah cerita dari mulutnya. Hanya cerita, tanpa menyinggung permasalahannya. Mendengarkannya saja, tanpa menjeda dengan pertanyaan atau apapun. Ceritanya disimak dan dianalisa. Akhirnya Gusti menurunkan ilham-Nya, sehingga bisa menebak akar masalah dan akibat-akibatnyanya. Puji Gusti, tebakannya tepat. 

    Saya tersenyum. Mengerti dan memahami kegelisahannya. Bisa melihat dengan sudut pandang dan pengetahuannya. Mungkin bisa dibilang, "mainnya kurang jauh, belajarnya kurang banyak, sehingga pengetahuannya kurang banyak dan pemahamannya baru di permukaan saja." Tapi saat melihat dari umurnya, dari ruang gerak dan ruang lingkupnya, sangat-sangat wajar dengan kesimpulan dan keputusan yang diambilnya. Apalagi masih remaja, di mana belum bisa berpikir dalam dan berpandangan jauh. Keputusan yang diambil hanya berdasarkan kepentingan diri sendiri. 

    Melihat hal ini, akhirnya saya memutuskan untuk mengenalkan sedikit tentang pendalaman agama. Dimulai dari pemaknaan akan islam dan rukunnya. Apa dan bagaimana syahdat dan salat itu. Bukan hanya dari sisi syariatnya, yang tentu sudah diketahui dan dijalaninya. Namun menyentuh sisi thariqat, hakikat, dan bahkan makrifatnya. Hal yang membuatnya bingung. Memang belum waktunya dia tahu hal ini. Umurnya belum cukup. Pemahamannya belum sampai. Tapi jika tak diperkenalkan sekarang, dia akan merasa keputusannya sangat benar. 

    Selain itu, saya pun mengenalkan dan membukakan sedikit tentang apa itu iqra kitabaka (QS 17:14). Dia hanya diam mendengarkan. Terus mendengarkan sesuatu yang belum dipahaminya. Tak apa. Biarkan nanti waktu dan pengalaman yang akan membantu memahamkannya. 

    "Kang, jalan itu bukan hanya ada 2 : fight dan flight saja, tapi ada juga jalan mendaki. Namanya saja jalan mendaki, tentunya tidak mudah. Namun jalan itulah yang harus dijalani. Maka mohon selalu pada Gusti untuk menunjukkan jalannya. Mohon selalu pada Gusti agar selalu diperjalankan di jalan itu. Kalau ada apa-apa, mintanya langsung sama Gusti ya. Biar nanti Gusti yang menunjukkan dan mengarahkan mahluk-mahluk-Nya untuk membantu. Jangan minta tolong dengan mahluk-Nya, rentan kecewa dan berpeluang salah," ujar saya sambil membelai rambutnya. 

    Diakhir sesi, saya mengenalkan tentang pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur ataupun di barat, dan tentang lingkaran dalam sudut padang matematika serta spiritual. Hingga di ujungnya, saya mengajukkan sebuah pertanyaan dewasa yang membuatnya diam cukup lama dan akhirnya menjawab dengan tidak tahu. "Di manakah Gusti berada?" Terus berperjalanan dan berproseslah, sehingga dipertemukan dengan jawabannya. 

    Semoga semua mahluk penghuni semesta senantiasa berbahagia, dan hidup dalam keselarasan serta keseimbangan.    


Komentar